Selasa, 14 Juni 2011

odzie eizdo tanah laut


HORMON
1.       Fungsi hormon
a.       Pembawa pesan kimiawi.
b.      Bersama saraf memadukan berbagai sistem organ (sistem koordinasi).
c.       Zat - zat dengan aktivitas hormonal (protein, asam amino, asam lemak, steroid)
2.       Mekanisme kerja hormone
a.       Sekresi endokrin : Sel endokrin mensekresi hormone:  hormon dialirkan ke darah : ditangkap oleh reseptor pada sel sasaran
b.      Neurosekresi : Badan sel saraf mensekresi hormone: melalui akson hormon dialirkan melalui aliran darah : hormon ditangkap oleh reseptor pada sel sasaran
c.       Neurotransmisi : Badan sel saraf mengeluarkan sinyal  : sehingga mempengaruhi sel sasaran melakukan sesuatu
3.       Interaksi hormon-reseptor ini dicirikan dengan :
a.       Afinitas yang tinggi.
b.      Spesifitas yang tinggi.
c.       Kapasitas yang rendah.
4.       Jenis-jenis hormon
a.       Kelenjar tiroid : Letak ; di kiri - kanan trakea atas dan di faring bagian bawah. Hormon tiroksin Mempengaruhi : metabolisme sel. Pertumbuhan dan perkembangan, diferensiasi jaringan tubuh
b.      Kelenjar paratiroid : Letak di sebelah dorsal kelenjar tiroid. Parahormon untuk mempertahankan kadar Ca dan P di dalam darah.
c.       Kelenjar adrenal : Terletak di atas ginjal. Bagian korteks/lapisan luar. Hormonnya kortisol (merangsang konversi protein menjadi karbohidrat). Bagian medulla/lapisan dalam.  Hormonnya epineprin/adrenalin.
d.      Kelenjar timosin :Hormon somatotrof/pertumbuhan. Kekurangan hormon timosin ; kretinisme. Kelebihan hormon  timosin ; gigantisme.
e.      Kelenjar pankreas : Pankreas bagian dalam ; terdapat kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon insulin (dihasilkan oleh sel β) dan glukagon (dihasilkan oleh sel α). Insulin menurunkan gula darah. Glukagon menaikkan gula darah.
f.        Kelenjar mammae : Mensekresi susu. Produksi susu dipengaruhi oleh hormon-hormon seperti prolaktin (sumber pituitari anterior) dan oksitosin (sumber hipotalamus via pituitari posterior).

contoh hormon
1. Melatonin
Hormon ini diproduksi di kelenjar pineal dan berfungsi sebagai antioksidan dan mengontrol tidur. Meskipun hormon ini diproduksi secara alami oleh tubuh, tapi kelebihan maupun kekurangan hormon dapat berakibat buruk bagi tubuh.
Kelebihan hormon melatonin dapat menyebabkan lesu, gangguan hati, gangguan mata, kelelahan, disorientasi, pikiran dan perilaku psikotik, kebingungan, mengantuk, gangguan berbicara, gemetar, sakit kepala dan pusing.
Sedangkan defisiensi atau kekurangan hormon melatonin akan menyebabkan kesulitan tidur atau insomnia, tidur tidak nyenyak, pembesaran prostat, depresi, kelelahan, siklus haid tidak teratur, gelisah, sindrom premenstruasi (PMS), katarak, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung (aritmia).
2. Serotonin
Hormon serotonin diproduksi di saluran pencernaan. Hormon ini berfungsi mengontrol mood atau suasana hati, nafsu makan dan tidur.
Kelebihan hormon serotonin bisa menyebabkan kegelisahan, kebingungan, peningkatan denyut jantung, pupil melebar, kehilangan koordinasi otot, berkeringat, diare, sakit kepala, menggigil, mual, muntah, kejang, demam tinggi, detak jantung tak teratur, gerakan tidak terkendali dan hilangnya kesadaran.
Kekurangan hormon serotonin dapat menyebabkan kecemasan, tertekan, fobia, pesimistis, gelisah, tidak percaya diri, mudah marah, gangguan tidur, PMS, sakit kepala dan sakit punggung.
3. Tiroid
Hormon tiroid diproduksi di kelenjar tiroid. Hormon ini berfungsi untuk peningkatan tingkat metabolisme basal dan mempengaruhi sintesis protein.
Kelebihan hormon tiroid dapat menyebabkan diare, denyut jantung tidak teratur, sakit kepala, menggigil, gugup, kejang perut, demam, sakit dada, atau kesulitan tidur.
Sedangkan kekurangan hormon tiroid dapat menyebabkan lelah, lesu, sembelit, nyeri sendi dan otot, ramput atau kuku tipis dan rapuh, kurang dorongan seksual, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, detak jantung lambat, gangguan konsentrasi dan memori. Bahkan beberapa dapat menyebabkan depresi dan gangguan jiwa lainnya.
4. Adrenalin
Hormon adrenalin diproduksi di medula adrenal. Hormon ini berfungsi untuk meningkatkan pasokan oksigen dan glukosa ke otak dan otot (dengan meningkatkan denyut jantung), meningkatkan katalisis dari glikogen dalam hati, kerusakan lipid dalam sel lemak, serta menekan sistem kekebalan.
Kekurangan hormon adrenalin dapat menyebabkan pening, pusing, kelelahan, penurunan berat badan. Beberapa mengalami gangguan usus, peningkatan pigmentasi kulit, depresi, nyeri otot dan sakit pinggang akut.
5. Dopamin
Hormon ini diproduksi di ginjal dan hipotalamus. Hormon ini berfungsi untuk meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, menghambat pelepasan prolaktin dan TRH dari hipofisis anterior.
Kelebihan dopamin dapat menyebabkan mual, muntah, sakit kepala, detak jantung tidak teratur, sakit dada, kesulitan bernapas, perubahan jumlah urin, perubahan warna kulit, sakit di kaki dan lengan.
Kekurangan hormon dopamin dapat menyebabkan tertekan, motivasi rendah, kesulitan memberikan perhatian dan berkonsentrasi, berpikir lambat, rendah libido dan impotensi, mudah lelah, berat badan cepat naik, dan mengalami gangguan tidur.
6. Gastrin
Hormon ini diproduksi di duodenum (usus 12 jari), yang befungsi untuk sekresi asam lambung oleh sel parietal.
Kelebihan gastrin dapat menyebabkan penyakit
gastrinoma yaitu tumor jinak.
7. Hormon pertumbuhan (HGH)
Hormon ini diproduksi di pituitari anterior, dan berfungsi merangsang pertumbuhan dan reproduksi sel, melepaskan faktor pertumbuhan 1 mirip insulin dari hati.
Kelebihan hormon pertumbuhan dapat menyebabkan tumor hipofisis yang jinak dan tumbuh secara perlahan. Juga dapat menyebabkan sakit kepala, gangguan penglihatan, tekanan saraf optik, kelebihan tulang rahang, jari tangan dan kaki, kelemahan otot, resistensi insulin. Bahkan dapat menyebabkan diabetes tipe 2 dan berkurangnya fungsi seksual.
Kekurangan hormon ini pada anak-anak dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan dan tubuh pendek dan tertundanya kematangan seksual. Sedangkan pada orang dewasa kekurangan hormon pertumbuhan jarang terjadi, tapi dalam beberapa kasus dapat menyebabkan obesitas, penurunan massa otot dan pengurangan energi dan kualitas hidup.
8. Insulin
Hormon ini diproduksi di pankreas dan berfungsi untuk pengambilan glukosa, glikogenesis dan glikolisis di hati dan otot dari darah.
Kelebihan insulin dapat menyebabkan kadar gula darah sangat rendah, detak jantung tidak teratur, berkeringat, gemetaran, mual, kelaparan berat dan kecemasan. Kadang-kadang juga menyebabkan hipoglikemia (gula darah rendah).
kekurangan insulin dapat menyebabkan hiperglisemia (peningkatan kadar gula darah) yang dapat mengakibatkan penyakit diabetes mellitus.
9. Testosteron
Hormon ini diproduksi di testis dan berfungsi sebagai hormon seks pria. Hormon ini merangsang pematangan organ-organ seks pria, skrotum, pertumbuhan jenggot, pertumbuhan massa otot dan kekuatan, dan peningkatan kepadatan tulang.
Kelebihan hormon ini dapat menyebabkan peningkatan libido berlebihan dan mudah marah. Kekurangan testosteron dapat menyebabkan penyakit atau kerusakan pada hipotalamus (kelenjar di bawah otak) atau testis yang menghambat sekresi hormon dan produksi testosteron (hipogonadisme).
Kekurangan testoreton juga dapat membuat kerutan di wajah, kehilangan otot tubuh, pinggang menggendut, kelelahan yang kronis, penurunan libido, disfungsi ereksi dan kesulitan mencapai orgasme ini bisa terjadi pada pria juga wanita.
10. Progesteron
Hormon ini diproduksi di ovarium, kelenjar adrenal dan plasenta (saat hamil). Hormon progesteron berfungsi menaikkan faktor pertumbuhan epidermal, meningkatkan temperatur inti selama ovulasi, mengurangi kejang dan rileks otot polos (memperluas saluran pernapasan dan mengatur lendir), anti-inflamasi, mengurangi kandung empedu kegiatan, normalisasi darah dan pembekuan pembuluh darah.
Hormon progesteron juga membantu fungsi tiroid dan pertumbuhan tulang dengan osteoblast Relsilience di tulang, gigi, gusi, sendi, tendon, ligamen dan kulit. Penyembuhan dengan mengatur fungsi kolagen saraf dan penyembuhan dengan mengatur mielin, serta mencegah kanker endometrium dengan mengatur efek estrogen.
Kekurangan progesteron bisa membuat kecemasan, susah tidur, susah beristirahat, panik, gelisah, kekurangan cairan dan payudara membengkak.
METABOLISME
1.       Metabolisme: keseluruhan reaksi yang terjadi di dalam sel, meliputi proses penguraian & sintesis molekul kimia yang menghasilkan & membutuhkan panas (enegi) serta dikatalisis oleh enzim
2.       Metabolisme meliputi:
a.        jalur sintesis (anabolisme/endorgenik) ; menggabungkan molekul-molekul kecil menjadi 
 makromolekul yang lebih kompleks; memerlukan energi yang disuplai dari hidrolisis ATP
b.       jalur degradatif (katabolisme/eksorgenik) ; memecah molekul kompleks menjadi molekul  yang lebih sederhana; melepaskan energi yang  dibutuhkan untuk mensintesis ATP.
3.       Komponen sel
a.       Asam nukleat
b.      Protein
c.       Karbohidrat/ polisakarida
d.      Lemak/ lipid
4.       Bahan Makanan sbg Sumber Energi
a.       Makronutrien (karbohidrat, protein, lipid) menyuplai energi bagi tubuh
b.      Vitamin membantu penggunaan makronutrien dan mempertahankan jaringan tubuh.
c.       Mineral mempertahankan homeostasis, dan
d.      Air sbg pelarut dalam tubuh, dan sbg alat transport untuk mendistribusikan nutrien ke jaringan.
5.       Fungsi Makronutrien
a.       Sumber energi :Energi yang dilepaskan dari ikatan kimia nutrien ialah ATP, fosfokreatin, dan zat molekul berenergi tinggi. Energi ini digunakan untuk transport dan kerja mekanik.
b.      Sintesis : Makromolekul digunakan untuk mensintesis bahan dasar yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pertahanan sel dan jaringan.
c.       Simpanan :Jika makanan yang kita makan melebihi kebutuhan tubuh untuk energi dan sintesis, kelebihan nutien tersebut akan disimpan sebagai glikogen dan lemak. Simpanan ini menyediakan energi saat puasa.
6.       Metabolisme bahan makanan
a.       katabolisme ; penguraian molekul zat makanan yang besar menjadi molekul yang lebih kecil; rx oksidasi; melepaskan energi/panas; rx eksorgenik; membebaskan elektron
b.      anabolisme ; sintesis molekul yang lebih kecil menjadi molekul yang lebih besar; rx reduksi; membutuhkan energi/panas; rx endorgenik; menyerap elektron
7.       Nutrient pools ialah nutrien yang tersedia di dalam tubuh dan siap digunakan. Bahan-bahan ini berada di dalam plasma.
8.       Lipid/ Lemak
a.       Asam lemak esensial yang harus disuplai dari makanan ialah asam linoleat dan asam lenolenat. ; sebagai prekursor untyuk prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien.
b.      Zat ini dapat digunakan sebagai sumber energi oleh jaringan dan mudah disimpan sebagai trigliserida di jaringan adiposa.
9.       Karbohidrat
a.       Sebagian besar diabsorbsi dalam bentuk glukosa.
b.      Konsentrasi glukosa plasma paling penting ; karena hanya glukosa yang dapat dimetabolisme oleh otak.
c.       Komposisi karbohidrat dalam diet dianjurkan sebesar 55% dari total kalori.
d.      Karbohidrat yang kita makan ada 2 jenis, yaitu: 1) available carbohydrat yang dicerna, diabsorbsi,    dan digunakan sebagai sumber energi. 2) unavailable carbohydrate yang menyuplai serat.
10.   Glukosa
a.       Jika kadar glukosa darah dalam batas normal ® sebagian besar jaringan menggunakan glukosa sebagai sumber energi.
b.      Kelebihan glukosa akan disimpan sebagai glikogen. Sintesis glikogen dari glukosa disebut glikogenesis.
c.       Simpanan glikogen terbatas sehingga kelebihan glukosa yang lain diubah menjadi lemak (lipogenesis).
d.      Jika kadar glukosa darah turun, tubuh mengubah glikogen kembali menjadi glukosa (glikogenolisis)
11.   Protein
a.       Asam amino dalam tubuh terutama digunakan untuk sintesis protein. Tetapi, jika asupan glukosa rendah, asam amino dapat diubah menjadi glukosa melalui jalur yang disebut glukoneogenesis yaitu pembentukan glukosa baru dari prekursor nonkarbohidrat.
b.      Proporsi protein sebagai sumber energi  dalam diet yang dianjurkan adalah sebesar 15%.
12.   Laju Metabolik Basal (Basal Metabolic Rate/BMR) ialah energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi fisiologis normal pada saat istirahat.
13.   Faktor-faktor yg mempengaruhi BMR
a.       Makanan kaya protein ; akan lebih meningkatkan BMR daripada makanan kaya lipid atau kaya karbohidrat. Hal ini mungkin terjadi karena deaminasi asam amino terjadi relatif cepat.
b.      Hormon tiroid ; meningkatkan konsumsi oksigen, sintesis protein, dan degradasi yang merupakan aktivitas termogenesis. Peningkatan BMR merupakan hal yang klasik pada hipertiroid, dan menurun pada penurunan kadar tiroid
c.       Aktivitas saraf simpatis ; Pemberian agonis simpatis b juga meningkatkan BMR. Sistem saraf simpatis secara langsung melalui nervus vagus ke hati mengaktivasi pembentukan glukosa dari glikogen. Sehingga aktivitas saraf simpatis meningkatkan BMR.
d.      Latihan : membutuhkan kalori ekstra dari makanan. Jika s/ makanan lebih banyak mengandung energi, maka berat badan akan meningkat. Jika penggunaan energi lebih banyak dari yg tersedia dlm makanan, maka tubuh akan memakai simpanan lemak yang ada dan mungkin akan menurunkan berat badan.
e.      Umur & faktor lain : BMR seorang anak umumnya lebih tinggi daripada orang dewasa, krn anak memerlukan lebih banyak energi selama masa pertumbuhan. Wanita hamil & menyusui juga memiliki BMR yang lebih tunggu.
14.   Kadar Glukosa Darah dapat dipertahankan dengan cara
a.       Glikogenolisis, yaitu hidrolisis simpanan glikogen di hati dan otot rangka.
b.      Lipolisis, yaitu katabolisme triasilgliserol menjadi gliserol dan asam lemak di jaringan adiposa. Gliserol yang mencapai hati akan diubah menjadi glukosa.
c.       Protein dikatabolisme menjadi glukosa (gluconeogenesis)

PROTEIN
1.       Protein
a.       Molekul yg sangat vital untuk organisme ; terdapt di semua sel
b.      Polimer ; disusun oleh 20 mcm asam amino standar
c.       Rantai asam amino dihubungkan dg iktn kovalen yg spesifik
d.      Struktur & fungsi ditentukan oleh kombinasi, jumlah dan urutan asam amino
e.      Sifat fisik dan kimiawi ; dipengaruhi oleh asam amino penyusunnya
2.       Fungsi Protein
a.    reaksi kimia ; enzymes
b.    Biokatalis
c.     hemagloben ;mengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh tubeh
d.    Antigen ; melawan bakteri penyakit
e.    Cadangan energi
f.     Immune system ; antibodies
g.    Mechanical structure ; tendons
h.    Generation of force ; muscles
i.      Nerve conduction ; ion channels
j.      Vision ; eye lens
3.       Asam Amino
a.       merupakan unit penyusun protein
b.      Struktur : satu atom C sentral yang mengikat secara kovalent: gugus amino, gugus karboksil, satu atom H dan rantai samping (gugus R)   
c.       Gugus R ; rantai samping yang berbeda-beda pada setiap jenis asam amino
d.      Gugus R yang berbeda-beda tersebut menentukan: Struktur             , Ukuran, Muatan elektrik, Sifat kelarutan di dalam air

Selasa, 15 Desember 2009

PENGENALAN GIMP

GNU Image Manipulation Program atau yang lebih dikenal dengan sebutan GIMP adalah perangkat lunak untuk manipulasi grafik berbasis raster. GIMP berjalan pada desktop GNOME dan dirilis dengan lisensi GNU General Public License. GIMP pada awalnya dikembangkan untuk desktop X11 yang berjalan di platform Unix. Namun saat ini software ini sudah diporting ke beberapa platform sistem operasi yang lain yaitu MS Windows dan Mac OS.

Grafik yang dihasilkan oleh GIMP disimpan dengan format XCF dan bisa diekspor ke berbagai format gambar seperti bmp, jpg, gif, pdf, png, svg, tiff, dan masih banyak lagi yang lainnya. GIMP menyediakan banyak sekali plugin yang memudahkan kita dalam mengolah image dengan cepat.

GIMP sampai saat ini belum menjadi aplikasi yang bbanyak digunakan, tapi dari hari-ke hari pengembangan dari versi GIMP selanjutnya lebih mendekati tampilan maupun fungsi dari Photoshop. Anda bisa menggunakan aplikasi ini untuk membuat desain grafis, membuat logo, mengedit foto dan juga membuat animasi sederhana (memakai plugin GAP (GIMP Animation Package). Tapi, tetap saja banyak orang yang tidak familiar dengan aplikasi opensource ini, cara penggunaan yang berbeda membuat banyak orang sulit beralih dari Photoshop yang berbayar dan mahal.

Pada Ubuntu saya sendiri diinstallkan Gimpshop yang memberikan kenyamanan sehingga tidak terlalu kaget beradaptasi dari Potoshop ke Gimp. Gimpshop bisa anda download DISINI namun sebelum diinstallkan pastikan Gimp telah terinstall

Selain Gimpshop, alternatif lain adalah GimPhoto yang makyuss dan mantap, berikut klaim dari GimPhoto

dan juga gimp dapat di gunakan pada windows,,,
kalo mau tau lebih jauh tentang gimp bisa aja lang sung kirim pertanyaan anda ke e-mail: pelaihari.zie@gmail.com.
tidak hanya masalah gimp anda juga bisa nanya masalah linux pada umumnya

Senin, 07 Desember 2009

harmudie kimfis

PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

Untuk memudahkan mempelajari sifat-sifat gas ini, akan dibayangkan adanya suatu gas ideal, yang mempunyai sifat-sifat :
a. Tidak adanya gaya tarik-menarik diantara molekul-molekulnya
b. Volume dari molekul-molekul gas sendiri diabaikan
Tidak ada perubahan energi dalam (Internal Energy = E) pada pengembangan
Bahan yang digunakan adalah CHCl3, Aseton, dan akuades.
Perhitungan
1. Mencari BM zat aseton
Diketahui : Vair = 83 mL = 0,083 L
M cairan aseton = 0,012 gram
R = 0,08206 L atm/K.mol
T = 273 K + T penangas = 273 K + 90 = 363 K
P = 1 atm
Ditanya : Berat molekul senyawa aseton ?
Jawab :
 =
BM zat =
=
= 4,29 g/mol
2. Faktor koreksi
Diketahui : T = 273 K + T ruangan (30 0C) = 303 K
BM udara = 28,8 g/mol
V air = 83 ml = 0,083 L
Ditanya : BM sebenarnya dari aseton ?
Jawab :
Log P =
=
P =242,61 mmHg = = 0,3192 atm
P.V = n. R. T dimana n = massa / BM
Massa =
Massa hilang = 0,03 g
Massa total = massa hilang + massa cairan
= 0,031 + 0,144
= 0,175 g
BM =
=
= 52,42 g/mol
3. Persen error
Diketahui : BM aseton teori = 58,5 g/mol
BM aseton praktek = 4,28 g/mol
Ditanya : % error ?
Jawab :
% error =
=
= 92,67 %
PEMBAHASAN
Menentukan berat molekul senyawa volatile berdasarkan massa jenis gas dengan menggunakan persamaan gas ideal adalah salah satu alternatif lain dari metode penentuan massa jenis gas dengan alat Viktor Meyer. Persamaan gas ideal bersama-sama dengan massa jenis gas dapat digunakan untuk menentukan berat molekul senyawa volatile. Senyawa volatile merupakan senyawa yang mudah menguap, apalagi bila dipanaskan pada suhu di atas titik didih. Senyawa volatile yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan aseton (CHCl3).
Pada prinsipnya, kita anggap tidak ada massa zat yang hilang ketika kita melakukan penguapan (aseton). Dengan mengubah cairan aseton menjadi gas, maka sesuai dengan sifatnya yang mudah berubah (kerapatannya) gas tersebut akan menempati seluruh ruang atau volume erlenmeyer. Dan akan berhenti ketika tekanannya sama antara tekanan di dalam erlenmeyer dan tekanan di udara luar. Dengan menerapkan konsep persamaan gas ideal kita dapat menghitung BM aseton tersebut. Nilai BM yang kita dapatkan pada praktik cenderung berbeda dengan dengan nilai BM secara teori. Hal ini biasanya disebabkan tidak semua cairan aseton yang menguap, kembali mengembun setelah didinginkan akibatnya akan mengurangi massa udara yang dapat masuk kembali, oleh karena itulah nilai yang diperoleh dikoreksi melalui % error.
Massa udara tersebut di atas dapat dihitung dengan mengasumsikan bahwa tekanan parsial udara yang tidak dapat masuk tadi sama dengan tekanan uap cairan aseton pada temperatur kamar.
Nilai BM aseton berdasarkan hasil percobaan adalah 4,28 g/mol dan berdasarkan teori sebesar 58,5 g/mol. Sedangkan nilai BM berdasarkan faktor koreksi sebesar 52,42 g/mol. Sehingga nilai persen errornya sebesar 92,67 %.
KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI TEMPERATUR
Suatu larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat terlarut yang larut dan yang tak larut.
Perngaruh temperatur tergantung dari panas pelarutan. Panas pelarutan atau kalor pelarutan adalah energi yang dibebaskan atau diserap bila satu mol zat dilarutkan sempurna dalam pelarut dalam jumlah besar
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan asam oksalat, larutan NaOH 0,5 M, indikator PP, es batu dan garam dapur.
Perhitungan
Dik : V rerata titrasi NaOH = 2,1 mL = 0,0021 L
Xb = konsentrasi kelarutan asam oksalat
N NaOH = 0,5 N
BE H2C2O4 = 45 grek
R = 8,31441 J/K mol
T = 5 0C = 278 K
Dit : Xb, ln Xb, dan ΔG
Jawab :
Mol NaOH = V titrasi x 0,5 N
= 0,0021 x 0,5
= 1,05 x 10-3 mol
Mol H2C2O4 = mol NaOH/2
= 1,05 x 10-3/ 2
= 0,000525 mol
Massa oksalat = n H2C2O4 x BM = 0,000525 x 126,07 = 0,0662 g
Xb = x x

= x x
= 0,00662 molal
ln Xb = ln 0,00662
= -5,0177

Dari grafik dapat dihitung :
H = -(slope x R) = -(0,1277 x 8,31441) = -1,06175 J/K.mol
S = intersep x R = -5,179 x 8,31441 = -43,06 J/K.mol
G = H – T. S
= -1,06175 – (278 x (-43,06) = 11969,62 J/Kmol
Tabel hasil perhitungan
PEMBAHASAN
Larutan jenuh merupakan suatu kesetimbangan dinamis. Kesetimbangan ini akan bergeser bila suhu atau temperatur dinaikkan. Pada percobaan ini asam oksalat (H2C2O4) dititrasi dengan NaOH 0,5 M setelah sebelumnya diberi tetesan indikator PP yang hanya bekerja pada larutan basa.
Pada saat tercapai kesetimbangan maka akan tercapai keadaan dimana laju pelarutan sama dengan laju pengendapannya, reaksinya adalah sebagai berikut :
H2C2O4 2H+ + C2O42-
Setelah tercapai kesetimbangan lalu dititrasi dengan larutan NaOH 0,5 M dan persamaan reaksinya :
H2C2O4 + NaOH Na2C2O4 + H2O
Percobaan dilakukan pada 6 suhu berbeda ; 50C, 100C, 150C, 200C, 250C, dan 300C. Dari hasilnya terlihat volume titran yang digunakan cenderung lebih banyak pada suhu yang lebih tinggi, masing-masing : 2,1 mL; 2,35 mL; 2,55 mL; 2,7 mL; 3,6 mL dan 3,95 mL. Hal ini menunjukkan kenaikan temperatur akan meningkatkan volume titran atau menyebabkan peningkatan kelarutan, sehingga kejenuhan asam oksalat juga akan bertambah. Dengan kata lain, pada saat sistem kesetimbangan ruang diturunkan, kesetimbangan bergeser ke arah reaksi yang mengeluarkan kalor (eksoterm).
Kejelasan pengaruh temperatur ini dapat dilihat pada grafik, yang relatif semakin meningkat (semakin miring ke kanan). Dari grafik ln Xd Vs 1/T, diperoleh nilai R2 sebesar 0,9463. Dari kurva ini diperoleh nilai slopenya 0,1277 dan intersepnya -5,179. Dengan diketahuinya nilai slope, maka kita dapat menghitung perubahan entalpi oksalat dan intersep digunakan untuk menghitung ∆S. Besarnya ∆H adalah besarnya nilai slope tersebut dikalikan dengan nilai R (tetapan gas umum) dan ∆S adalah perkalian besarnya nilai intersepnya dengan nilai R, sehingga besarnya energi bebas Gibbs (∆G) merupakan selisih antara perubahan entalpi dan kelarutannya. Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai ∆G dari suhu terendah adalah 11969,62; 12184,92; 12400,22; 12615,52; 12830,82 dan 13046,12 J/mol.K. Dalam perhitungan ini semua nilai energi bebas Gibbs (∆G) adalah positif. Hal ini menunjukkan reaksi yang berlangsung tidak spontan, namun demikian reaksi cenderung akan bersifat spontan pada suhu yang rendah,.
Jadi, pada praktik ini. Kelarutan asam oksalat semakin bertambah pada temperatur yang lebih tinggi. Dengan demikian kejenuhannya juga akan semakin bertambah, karena terjadinya pergeseran kesetimbangan ke arah kanan. Pada percobaan ini terjadi reaksi eksotermis, hal ini dapat dilihat dari nilai ∆H yang negatif.

Larutan jenuh adalah keadaan ketika suatu larutan telah mengandung suatu zat dengan konsentrasi maksimum.
Kenaikan temperatur meningkatkan kelarutan asam oksalat. Hal ini dapat dilihat dari semakin besarnya volume titran yang digunakan.
Panas pelarutan (∆H) yang diperoleh pada percobaan ini bernilai negatif. Artinya reaksi yang terjadi adalah reaksi eksotermis.
Energi bebas yang dihasilkan bernilai positif, dengan kata lain reaksi yang berlangsung tidak spontan.

PROSES ADSORPSI ISOTERM LARUTAN
Adsobso adalah peristiwa penyerapan sifat-sifgat baik berupa gasaa maupun zat caier pada permukaan adsobben
Adsobsi terbagi 2 :
1. adsobsi fisik adalah gaya yang menyebabakan adsobsi tersebut sama dengan gaya yang menyebabakan kondendsasi dari suatu gas memebentuk cairan
2. adsobsi kimia adalah panas yang dibebaskan cukup besar dal=n lapisan adsobsi yang terbentuk umumnya hanya terdiri dari satu lapis
adsopsi dipengaruhi oleh macam adsopben macam zat yang diadsorpsi, konsentrasi adsorbbat, temperatur, tekanan dan uas permukaan.
Jenis adsorbens yang paling efisien adalah padatan yang sangat pirolisis seperti arang atau karbon dan butiran padatan yang halus. Pada keadaan setimbang , hubungan antara jumLah gas yang teradsorpsi dan tekanan gas pada suhu tertentu dimana sebagai isoterm adsorpsi
Menurut Langmuir, penurunan isoterm adsorpsi mencakup 5 asumsi mutlak, yaitu :
1. Gas yang teradsorpsi berkelekuan ideal dalam fasa uap.
2. Gas yang teradsorpsi dibatasi sampai lapisan monomolekul.
3. Permukaannya homogen.
4. Tidak ada antaraksi lateral antara molekul adsorbat
Molekul gas yang teradsorpsi terlokalisasi
Bahan-bahan yang digunakan adalah karbon aktif, asam asetat 1 N, indikator PP, dan NaOH 0,1N.
Peristiwa adsorpsi terjadi ketika karbon aktif dimasukkan ke dalam larutan asam asetat. Karbon aktif merupakan adsorben yang baik, karena memiliki tingkat porositas yang tinggi dan permukaannya yang halus. Dengan demikian adsorbsi dapat terjadi pada banyak tempat. Penyerapan zat dari larutan, mirip dengan penyerapan gas oleh zat padat. Penyerapan bersifat selektif yang diserap hanya pelarut atau zat terlarut.
Dari hasil percobaan terlihat, volume titran untuk asam asetat sebelum pencampuran lebih besar dibandingkan setelah dicampurkan karbon aktif. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan konsentrasi yang ditandai dengan berkurangnya volume titran. Dengan kata lain penambahan atau pencampuran karbon aktif mengakibatkan peningkatan konsentrasi asam asetat.
Dari hasil perhitungan dan percobaan yang dilakukan dapat diketahui proses dan hasil adsorpsi asam asetat dengan volume tertentu pada suatu karbon aktif.
Reaksi yang terjadi pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
CH3COOH + NaOH>>>CH3COONa + H2O
Persamaan adsorpsi isoterm Freundlich pengaruh konsentrasi larutan terhadap adsorpsi dinyatakan dengan hubungan :
x/m = k.cn
Grafik 2 menunjukkan hubungan tersebut, dalam algoritma diperoleh suatu persamaan garis lurus, dengan nilai n (slope) sebesar 0,114 dan nilai k sebesar -1,272. Slope n merupakan indikator dari besarnya energi dan macam-macam energi yang berhubungan dengan proses adsorpsi sedangkan intersep k mengindikasikan kapasitas serapan, semakin besar harga k, maka semakin besar afinitas adsorben terhadap adsorbat, dengan demikian adsorben dengan luas permukaan yang besar akan memiliki nilai k yang tinggi pula, pada persamaan ini tidak berlaku jika konsentrasi adsorbat terlalu tinggi. Nilai R pada grafik sebesar 0,6541.
Grafik ketiga merupakan gambaran dari persamaan Langmuir, nilai α diperoleh dari perhitungan slope sebesar 0,650 sedangkan nilai β yang diperoleh sebesar -0,435. Sedangkan nilai R nya adalah 0,3861.

Karbon aktif merupakan absorben yang paling baik karena memiliki tingkat porositas yang tinggi sehingga mudah berinteraksi dengan asam asetat.
Semakin kecil volume titran, maka semakin besar konsentrasi larutannya.
KONSENTRASI KRITIS MISEL
Misel hanya terbentuk di atas konsentrasi kritis misel (kkm) dan di atas temperatur Kraft
Bahan-bahan yang digunakan adalah gelatin dan akuades
Misel merupakan agregasi dari ion-ion surfaktan, ketika misel mulai terbentuk terdapat konsentrasi pembentukkan yang biasa disebut konsentrasi kritis misel (kkm). Dalam percobaan ini, digunakan gelatin untuk melarutkan ion-ion surfaktan dalam 500 mL aquades. Larutan tersebut kemudian diambil dengan volume berbeda, agar konsentrasi yang dihasilkan tidak monoton (sama). Masing-masing sampel yang diambil sebesar 42 mL; 44 mL; 44,4 mL; 44,8 mL; 45,2 mL; 45,6 mL; 46 mL dan 46,4 mL, yang kemudian diencerkan lagi menjadi 100 mL. Pengukuran daya hantar listrik dilakukan dengan temperatur yang berbeda dari 320C, 340C, 360C, 380C, dan 400C.
Perlakuan dengan suhu yang berbeda-beda dilakukan untuk menunjukkan pengaruh suhu terhadap besarnya daya hantar listrik. Begitu juga dengan perlakuan dengan konsentrasi yang berbeda-beda dilakukan untuk menunjukkan pengaruh konsentrasi terhadap besarnya nilai daya hantar listrik, secara teoritis semakin besar konsentrasi, maka akan semakin besar pula daya hantar listrik. Hal ini sesuai dengan grafik yang dihasilkan pada temperatur 320C. Grafik terlihat lebih condong ke kanan atas, artinya semakin besar konsentrasi semakin besar pula daya hantar listriknya, walaupun pada grafik ada satu titik ditengah yang lebih tinggi dari titik lain, namun hal ini tidak mempengaruhi persepsi yang telah dibuat sebelumnya. Namun demikian secara keseluruhan (dari semua grafik) menunjukkan adanya penyimpangan dari teori di atas. Hal ini terlihat dari kebanyakan grafik yang berbentuk datar kemudian turun naik. Sehingga terlihat jelas adanya ketidakstabilan dari daya hantar listrik pada konsentrasi-konsentrasi tersebut Dari hasil praktik dapat dihitung besarnya nilai kkm, yaitu pada suhu 320C kkm sebesar 2,28 dan ln kkm 0,824; pada suhu 340C kkm sebesar 2,28 dan ln kkm 0,824; pada suhu 360C kkm sebesar 2,30 dan ln kkm 0,8329; pada suhu 380C kkm sebesar 2,30 dan ln kkm 0,8329; serta pada suhu 400C kkm sebesar 2,28 dan ln kkm 0,824.
Berdasarkan perhitungan kkm pada perlakuan sebelumnya, dapat dibuat suatu grafik yang menyatakan hubungan antara 1/T dengan ln kkm. Nilai entalpi miselisasi dapat dicari dari slope pada grafik. Pada grafik terlihat nilai slope y = -43,983x + 0,9699 dan dari perhitungan, nilai entalpi (∆H0) yang dihasilkan sebesar -365,675 J. Nilai entalpi (∆H0) negatif menunjukkan proses yang berlangsung adalah eksoterm.

DISTRIBUSI SOLUT ANTARA DUA PELARUT TAK BERCAMPUR
Bahan yang digunakan adalah asam asetat 1 M, kloroform, larutan standar NaOH 0,5 M dan indikator pp
Perhitungan
Penentuan Konsentrasi Asam Asetat Mula-Mula
Untuk asam asetat 0,2 M
Diketahui : CNaOH = 0,5 M
VNaOH = 4,65 mL
VCH3COOH = 10 mL
Ditanya : CCH3COOH =…….M?
Penyelesaian :
CNaOH . VNaOH = VCH3COOH . CCH3COOH
CCH3COOH = = = 0,2325 M
a. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat Setelah Kesetimbangan
Diketahui : CNaOH = 0,5 M
VNaOH = 4,15 mL
Vair = 10 mL
Ditanya : Cair =…….M?
Penyelesaian :
(C.V)NaOH = (C.V)air
Cair = = 0,2075 M
b. Penentuan konsentrasi asam asetat dalam kloroform
Diketahui : CCH3COOH = 0,2075 M
Cair = 0,2325 M
Ditanya : Ckloroform =….. M?
Penyelesaian :
Ckloroform = CCH3COOH − Cair
= 0,2325 M – 0,2075 M = 0,025 M
PEMBAHASAN
Konstanta kesetimbangan (K) dari suatu zat yang terlarut sangat tergantung dari konsentrasi dari zat pelarutnya. Dalam percobaan yang dilakukan, asam asetat dibagi menjadi 4 bagian dengan konsentrasi berbeda (0,2; 0,4 ; 0,6; 0,8 M) yang kemudian dibagi kembali menjadi 2 bagian dengan volume berbeda (10 mL dan 25 mL).
Bagian pertama asam asetat dengan volume 10 mL dititrasi langsung dengan NaOH 0,5 M (setelah diberi indikator PP) tanpa ada proses pencampuran. Bagian kedua dengan volume 25 mL, larutan asam asetat dicampurkan dengan air dan 25 mL kloroform yang dikocok selama 10 menit, pada saat pengocokan terjadi semburan gas klor. Hal ini disebabkan sifat kloroform yang volatil atau mudah menguap. Larutan hasil pengocokan terlihat terpisah, kloroform dibagian bawah corong pisah sedangkan air dibagian atas. Tidak menyatunya kloroform dengan air disebabkan sifat yang berbeda, air bersifat polar sedangkan kloroform bersifat nonpolar. Larutan tersebut kemudian dipisahkan, metode pemisahan yang dilakukan adalah ekstraksi, yaitu pemisahan suatu campuran dengan memberi pelarut yang sesuai sehingga zat lain tidak ikut larut. Seperti titrasi sebelumnya, larutan air kemudian dititrasi dengan NaOH 0,5 M. Titrasi pertama disebut dengan titrasi sebelum pengenceran dan titrasi kedua adalah titrasi setelah pengenceran.
Titrasi ini untuk mengetahui konsentrasi asam asetat sebelum dan sesudah pengenceran. Selisih konsentrasi sebelum dan sesudah menyatakan konsentrasi dari larutan kloroform.
Dari kedua proses titrasi, hasil yang diperoleh pada tiap-tiap konsentrasi adalah : untuk konsentrasi 0,2 M sebelum pengenceran volume titrasi 4,65 mL, sedangkan setelah pengenceran volumenya 4,15 mL. Untuk konsentrasi 0,4 M sebelum pengenceran volumenya 8,9 mL, sedangkan setelah pengenceran volumenya 8,4 mL. Untuk konsentrasi 0,6 M sebelum pengenceran volumenya 13,75 mL, sedangkan setelah pengenceran volumenya 12,2 mL. Untuk konsentrasi 0,8 M sebelum pengenceran volumenya 18,2 mL, sedangkan setelah pengenceran volumenya 16 mL.
Hasil diatas menunjukkan dua kenyataan, pertama konsentrasi sebelum pengenceran lebih besar daripada sesudah pengenceran. Hal ini disebabkan pada saat dilakukan ekstraksi terdapat masa larutan yang tertinggal (yang masih bergabung dengan pelarut lain). Sehingga konsentrasinya akan ikut mengecil. Kenyataan kedua, semakin besar konsentrasi larutan, semakin besar pula titrasinya. Ini disebabkan konsentrasi berbanding lurus dengan volume titrasi.
Dari grafik ln Cair lawan ln CCCl4 maka dapat ditentukan besarnya konstanta kesetimbangan. Slope pada grafik menunjukkan besarnya nilai n sedangkan intersep menunjukkan besarnya n/K. Dari grafik y = 0,6635x + 1,2245, dari nilai ini diperoleh n sebesar 0,6635 sedangkan nilai K (konstanta kesetimbangan dari air dan klorofom) sebesar 0,195.

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Pencampuran antara pelarut air dengan kloroform menghasilkan larutan yang tidak bercampur.
2. Tidak bercampurnya air dengan kloroform disebabkan air bersifat polar, sedangkan kloroform bersifat nonpolar.


VOLUME MOLAL PARSIAL
Volume molar parsial dari sebuah substansi dapat diartikan sebagai perubahan volume ketika 1 mol substansi bertambah untuk volume campuran yang sangat besar. Volume total dari campuran dapat diartikan sebagai volume molar parsial komponen
Ada tiga sifat termodinamik molal parsial utama, yakni ; (i) volum parsial dari komponen-kompenen dalam larutan, (ii) entalpi molal parsial, dan (iii) enegi bebas molal parsial.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah NaCl dan aquades.
Perhitungan
a. Mencari o
Diketahui : Wo = 52,73 gram
We = 28,63 gram
Vp = 25 mL
Ditanya : o……..g/mL?
Penyelesaian
o =
o =
o = 0,964 g/mL
b. Mencari V1o
Diketahui : o = 0,964 g/mL
BM H2O = 18,006
Ditanya : V1o ……….mL ?
Penyelesaian
V1o = BM H2O/o
V1o = 18,006 / 0,964
V1o = 18,68 mL
Untuk konsentrasi 3 M
c. Mencari 
Diketahui : o = 0,964 g/mL
W = 55,53 gram
Wo = 52,73 gram
W¬e = 28,63 gram
Ditanya : ……….gram/mL
Penyelesaian
 =
 = = 1,076 gram/mL
d. Mencari Molalitas (m)
Diketahui : o = 0,964 gram/mL
M = 3 M
M2 = 58.44 gram/mol
Ditanya: m……….mol/gram ?
Penyelesaian :
m = 1 / {(/M – M2/1000)}
m = 1/ {(0,964/3) – (58.44/1000)}
m = 3,8 mol/kgram
√m = 1,95
e. Mencari Volume molal semu ()
Diketahui : M2 = 58.44 g/mol
m = 3,8 mol/kgram
 = 0,964 gram/mL
 = 1,076
Ditanya : …….?
Penyelesaian
 =
 =
 = 25,89
f. Mencari Volume molal parsial pada komponen 1
Diketahui : V1o = 18,68 mL
m = 3,8 gram
√m = 1,95
= 7,9133
Ditanya: V1………..mL?
Penyelesaian


V1 = 19,21 mL
g. Mencari Volume Molal Parsial Pada komponen II
Diketahui :  = 25,89 mL/ mol
m = 3,8 gram
√m = 1,95
= 7,9133
Ditanya : V2 = ?
Jawab :
= 49,02 mL/ mol
Tabel Hasil Perhitungan
PEMBAHASAN
Volume molal parsial merupakan volume dimana terdapat perbandingan antara pelarut dengan zat terlarut, yang ditentukan oleh banyaknya zat mol zat terlarut yang terdapat dalam 1000 gram pelarut. Tujuan dari percobaan yang dilakukan ini adalah untuk menentukan volum molal parsial komponen larutan.
Percobaan ini menggunakan bahan NaCl dan akuades, NaCl berfungsi sebagai zat terlarut dan akuades sebagai pelarut. NaCl digunakan karena merupakan larutan elekrolit kuat yang akan terurai menjadi ion Na+ dan Cl- di dalam air dan mampu menyerap air tanpa adanya penambahan volume suatu larutan, sehingga disebut dengan volume molal parsial semu. Reaksi yang terjadi pada langkah ini adalah :
NaCl Na+ + Cl-
Pada tempat terdekat dari suatu ion positif, molekul-molekul air yang mengelilingi letaknya sedemikian rupa, sehingga ujung negative dari dipol akan mengarah ke muatan positif dari zat. Sedangkan molekul-molekul ini yang mengelilingi ion negatif, ujung positifnya akan mengarah pada muatan negatif.
Sebelum percobaan piknometer ditimbang terlebih dulu. Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis larutan. Berat piknometer kosong sebesar 28,63 gram dan berat ketika penuh dengan akuades sebesar 52,73 gram.
Perlakuan awal adalah membuat larutan NaCl 3,0 M sebanyak 25 mL, perlakuan ini dilakukan dengan melarutkan garam NaCl dengan akuades, dalam hal ini jumlah komponen awalnya sebesar 17,55 gram garam. Larutan NaCl 3,0 M sebanyak 25 mL yang terbentuk, kemudian dibuat lagi dengan konsentrasi 1/2 , 1/4, 1/8, dan 1/16 dari konsentrasi awalnya (3,0 M).
Dari proses pengenceran ini diperoleh larutan dengan konsentrasi 3; 1,5; 0,75; 0,375 dan 0,1875 M. Masing-masing larutan tersebut dimasukkan dalam piknometer, kemudian piknometer ditimbang dalam keadaan penuh NaCl dan diukur suhunya. Masing-masing larutan dalam piknometer memiliki berat yang berbanding lurus dengan konsentrasi NaCl, yaitu semakin kecil konsentrasi NaCl maka beratnya semakin kecil pula. Selain itu, massa jenis NaCl lebih besar dari massa jenis akuades. Besarnya suhu masing-masing larutan bervariasi antara 30,40C − 30,60C. Perbedaan ini mungkin karena masuknya udara luar ke dalam piknometer yang tidak tertutup rapat. Namun, secara garis besarnya, perubahan konsentrasi tersebut tidak mempengaruhi suhu larutan NaCl.
Berat jenis larutan NaCl diperoleh dari hasil kali massa jenis akuades dengan berat larutan NaCl (berat piknometer yang berisi larutan NaCl dikurang piknometer kosong) yang kemudian dibagi dengan berat akuades (berat piknometer berisi akuades dikurang berat piknometer kosong. Besarnya berat jenis larutan NaCl dari konsentrasi 3,0 M − 0,1875 M semakin kecil yaitu 1,076; 1,0204; 0.9932; 0,9796 dan 0,9728.
Dari grafik antara volume molal parsial terhadap m, diperoleh slope m = 3,9361. Sehingga volume molal parsial komponen 1 (solven yaitu air) berturut-turut dari konsentrasi 3 M − 1,875 M adalah 19,21; 18,84; 18,73; 18,69 dan 18,69 mL. Dan harga volume molal parsial komponen 2 (solute yaitu NaCl) masing-masing adalah 49,02; 39,17; 32,10; 25,63 dan 17,66 mL/mol.
Dari grafik hubungan antara m dengan volume molal parsial komponen 1 dan komponen 2, terlihat garis miring ke kanan atas. Hal ini menunjukkan bahwa volume molal parsial komponen 2 berbanding lurus dengan volume molal parsial komponen 1. Pada volume molal parsial komponen 1 berlaku “semakin kecil konsentrasi larutan, semakin kecil volume molal parsialnya”. Begitu juga dengan volume molal parsial komponen 2, “semakin kecil konsentrasi larutan, semakin kecil juga volume molal parsialnya.
Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Volume molal parsial adalah volume dimana terdapat perbandingan antara pelarut (solven) dengan zat terlarut (solute).
NaCl adalah zat padat ionic polar yang gaya tariknya begitu kuat sehingga untuk dapat larut, NaCl memerlukan solven yang sangat polar sekali yaitu air.

Kamis, 03 Desember 2009

PERCOBAAN 1
PEMISAHAN CAMPURAN YANG TAK SALING BERCAMMPUR

Eksatraksi Adalahah pemisahan satu komponen atau lebih dari suatu campuran.

Ekstraksi terbagi 3 yaitu : padat-padat, padat cair dan cai-cair.

Reffinate adalah lapisan rresiduyang dibentuk oleh jomponen yang tidak larut dan biasanya berissi sejumlah pelarut.

Ekstraksi terdiri dari : pembentukaan, pencucian dan ekstraksi endapan

Koefisien distribusi adalah perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam fasa pelarut organik dengan konsentrasi terlarut dalam air.

Efek salting out adalah berkurangnya beberapa zat organik dalam air secara luas oleh kehadiran garam anorganik (nacl, cacl2, (nh)4so4)

keuntungan efek salting-out adalah kelaritan dari pelarut organik yanbg bercamput sebagian misalnya eter akan banyak berkurang dalam larutan asam dengan demikian mengurangi kerugian penggunaan pelarut dalam ekstraksi

proses ektraksi berdasarkan hukum distribusi/ partisi menyatakan jika suatu sistem dari dua lapisan cairan dibuat dari dua komponen yang tidak dapat bercampur atau sedikit bercampur ditambahkan sejumlah zat ketigaa yang larut pada kedua lapisan tersebut, maka konsentrasi pelarut pertama akan menunjukkan suatu perbandingan konsentrasi
pelarut kedua pelarut

bahan yang digunakanasam asetat, benzena, kloroform, naoh, pp, akuades

benzena dan kloroform dapat terpisah karena adanya perbedaan kepolaran atau molaritas yang terjadi. perbedaan kepolaran inilah yang menyebabkan terlihatnya suatu batas ketika dua macam pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan ke dalam suatu tempat. hal ini sesuai dengan hukum ”like dissolves like”, maksudnya larutan dapat larut dengan pelarut yang sama sifatnya dengan larutannya.
larutan asam asetat (ch3cooh) bertindak sebagai zat terlarut atau solut, sedangkan air dan yang bertindak sebagai pelarut organiknya (solven) adalah benzena dan kloroform
ch3cooh + naoh → ch3coona + h2o

posisi dalam campuran ini air berada di bagian bawah dan benzena di bagian atas, sedangkan pada kloroform sebaliknya. hal ini terjadi karena perbedaan berat jenis pelarut organik dengan berat jenis air

asam asetat merupakan senyawa polar tetapi senyawa ini memiliki konstanta dielektrik yang sedang sehingga dapat larut dalam senyawa polar maupun senyawa non polar

prosedur percobaan
- memasukkan 20 ml ch3cooh kedalam erlenmeyer
- indikator pp
- menitrasi dengan naoh 2 n(merah muda)

+ memasukkan 20 ml ch3cooh + 20 ml kloroform
+ mengencerkan lapisan air hingga 100 ml
+ indikator pp, menitrasi dengan naoh 2 n
+ mencatat volume awal dan akhir titrasi (merah muda)

= 20 ml ch3cooh + 10 ml benzena
= mengencerkan lapisan air hingga 100 ml
= indikator pp, menitrasi dengan naoh 2 n
= mencatat volume awal dan akhir titrasi

PERCOBAAN 2
PENGENALAN GUGUS FUNGSI SENYAWA KIMIA

Prinsip pemisahan dilakukan dengan metode kristalisasi
Teknik kristalisasi yaitu dengan melarutkan zat padar tidak murni dalam pelarut panas yang dilanjutkan dengan pembandingan larutan untuk memebiarkan zat tersebut mengristal

Larutan jenuh adalah jumlah terkecil pelarut yang digunakan dalam melarutkan zat padat
Larutan tidak jenuh adalah
Larutan lewat jenuh adalah

Proses ekstraksi pelarut cair digunakan kerena tidak mahal, tidak reaktif dan setelah melarutkan zat padat organik bila dilakukan penguapan akan lebih mudah memperoleh kembali

Titik leleh adalah melelehnya molekul-molekul dalam bentuk kisi yang teratur dan diikat oleh gaya-gaya gravitasi dan elektrostatik, bila dipanaskan energi kenetik dari zat ini akan naik, berakibat molekul bergetar sehingga pedasuhu tertentu molekul akan terlaepas.

Titik leleh senyawa murni adalah suhu dimana fase cair senyawa tersebut berada dalam kesetimbangan 1 atm
Bahan : asam benzoat, n-heksana, kloroform, toluena, methanol, kerbon/nori, aikloheksana, es akuades

Gugus fungsional adalah kelompok gugus khusus pada atom dalam molekul, yang berperan dalam memberi karakteristik reaksi kimia pada molekul tersebut
1. Uji kelarutan
Pada percobaan kali ini, senyawa uji yaitu etanol, 2-propanol, t-butanol, asetaldehid, aseton, asam asetat, heksana, dan fenol. Pada tahap pertama larutan uji tersebut di masukkan dalam tabung reaksi yang masing-masing berisi 2 mL air, hasil yang diperoleh adalah semua senyawa uji terlarut. Kemudian pelarut diganti dengan kloroform dan hasil yang didapatkan adalah senyawa uji etanol, 2-propanol, t-butanal tidak terlarut, sedangkan asetaldehid, aseton, asam asetat, heksana, dan fenol terlarut. Dan yang terakhir pelarut diganti dengan CCl4 dan hasil yang didapatkan adalah hanya senyawa uji etanol, aseton, dan heksana yang terlarut dan lima senyawa lainnya tidak terlarut.
2. Uji bau
Pada percobaan kali ini hal yang dilakukan adalah membuka tutup botol larutan uji yang sudah disediakan dan mengkibas-kibas uapnya. Kemudian didapatkanlah bau dari larutan uji tersebut, yaitu etanol (bau lem), 2-propanol (bau menyengat), t-butanol (bau balon), asetaldehid (bau lem), aseton (bau balon), asam asetat (tidak berbau), heksana (bau menyengat), dan fenol (bau baygon).
3. Uji fehling
Pada percobaan ini yang dilakukan adalah mencampurkan 1ml fehling A dan 1ml fehling B kemudian menambahkan 1 mL larutan uji. Hasil yang didapatkan adalah etanol (warna biru dan tidak ada endapan), 2-propanol (warna bawah coklat dan atas merah), t-butanol ( warna bawah biru dan atas bening), asetaldehid (Warna bawah biru dan atas bening), aseton (Warna tetap, tidak terdapat endapan), asam asetat (Warna bawah biru dan atas bening), heksana (Warna bawah biru dan atas bening), dan fenol (biru muda).
4. Uji KMnO4
Pada percobaan kali ini yang dilakukan adalah menambahkan 2 tetes asam sulfat pekat dan KMnO4 tetes demi tetes. Kemudian ditempatkan dalam penangas air sampai terbentuk reaksi, dan hasil yang didapatkan adalah etanol (bening), 2-propanol (merah kecoklatan), t-butanol (Kuning bening), asetaldehid (Merah muda), aseton (Bening terdapat ampas), asam asetat (Merah tua), heksana (Merah tua), dan fenol (Coklat kemerah-merahan).
5. Uji iodoform (I2 dalam KI)
Pada percobaan ini yang dilakukan adalah menambahkan 1 mL larutan iodin (I2 dalam KI) ke dalam senyawa uji, dan memasukkan juga NaOH tetes demi tetes. Hasil yang didapatkan adalah etanol (Terbentuk 2 lapisan, bening, ada endapan), 2-propanol (keruh), t-butanol (keruh), asetaldehid (keruh), aseton (Kuning muda), asam asetat (Terbentuk lapisan), heksana (terbentuk lapisan), dan fenol (Keruh dan terbentuk lapisan).
Reaksi yang ditunjukkan adalah
CH3 – C – CH3 + 3I2>>>>> CI3 – C – CH3 +3HI
CI3 – C – CH3 + NaOH >>>>> CHI3 + CH3 – C - ONa
CH3 – C – CH3 + 3I2 + NaOH >>>>>> CHI3 + CH3 – C – Ona + 3HI
6. Reaksi dengan alkohol (etanol)
Pada percobaan kali ini yang dilakukan adalah menambahkan 1 mL etanol dan beberapa tetes H2SO4 pekat. Kemudian memanaskan dalam penangas air selama 10 menit. Hasil yang didapatkan adalah etanol (Putih diatas, kuning dibawah, tidak ada endapan), 2-propanol (Ada endapan, putih diatas dan kunign agak keruh dibawah), t-butanol (bau lem), asetaldehid (Ada endapan warna kuning tua), aseton (Terdapat endapan warna kunign bening), asam asetat (Putih diatas, kuning dibawah, tidak ada endapan), heksana (Atas putih dan bawah kuning bening).
Reaksi yang ditunjukkan adalah:
CH3 – CH2 – OH + 4I2 + NaOH >>>> 5HI + CHI3 + H – C – ONa

PERCOBAAN 3
HIDROKARBON

hidrokarbon adalah senyawa organik yang banyak mengandung atom karbon dan hydrogen

senyawa hidrokarbon alifatik adalah senyawa yang rantai c-nya terbuka

senyawa alifatik terbagi menajadi dua
A. senyawa alifatik jenuh, yaitu senyawa alifatik yang rantai c-nya hanya terdiri ikatan tunggal
B. senyawa alifatik tak jenuh, yaitu senyawa alifatik yang rantai c-nya memiliki rangkap 2 atau 3
senyawa hidrokarbon siklik, adalah senyawa karbon yang ranitai c-nya tertutup atau melingkar
A. senyawa karboksilik(pennyusunnya hanya atom karbon), terbagi mnejadi 2 : aromatik (penyusun cincin mempunayi ikatan rangkap )
B. senyawa heterosiklik (penyusunnya terdapat atom lain)

sifat fisika: tak berwarna, tidak larut dengan air, larut dalam pelarut nonpolar
sifat kimia
-hidrokarbon jenuh
ch4 + h2→ tak bereaksi, katalis ni
-halogenasi sikloheksana
ch4 + br → ch3br + hbr + produk lain
-pembakaran
ch4 + 2o2→ co2 + 2h2o
hidrogenasi
ch2 = ch2 + h2 → ch3 – ch3
bahan : asetal dehid, ccl4, air borm, sikloheksana, na2co3 5 %, zn, h2so4 pekat, akuades, heksana, kmno4 0,5 % , benzena

PROSEDUR
1.pembuatan alkana dari aldehid (reduksi clemensen)
dari percobaan yang dilakukan asetaldehid yang ditambahkan dengan logam zn dan asam sulfat pekat akan terbentuk larutan hitam pekat. zn berfungsi sebagai katalis sehingga reaksi berlangsung cepat. zn juga berfungsi sebagai reduktor dimana zn tereduksi oleh asetaldehid. sedangkan asam sulfat pekat berperan sebagai oksidator. reaksi clemensen :

o
coh3 ch2ch3
h2so4
adapun reaksi yang terjadi :
o
2 ch3 c + 2 zn 2 ch3 c+ h
h ozn

2 CH3 C+ H + H2SO4 2 CH3 CH3 + 2 ZnSO4 + H2O
Ozn
2.Uji Bromin
Uji Bromin ini dilakukan untuk mengetahui kecepatan reaksi yang menghasilkan uap/asap HBr. Senyawa hidrokarbon yang digunakan adalah heksana, sikloheksana, dan benzena. Dari percobaan masing-masing heksana, sikloheksana dan benzena yang dilarutkan dalam larutan brom akan terbentuk larutan berwarna merah kecokelatan. Perlakuan ini dilakukan dengan dua cara yaitu diletakkan ditempat terang dan ditempat gelap beberapa menit. Untuk mengetahui terbentuknya HBr dapat ditiup mulut tabung reaksi atau dapat juga diperikasa dengan kertas lakmus lembab sehingga dapat menghasilkan asap HBr. Dari hasil diperoleh bahwa senyawa hidrokarbon yang ditempatkan ditempat terang lebih cepat menghasilkan uap/asap HBr dari pada ditempat gelap. Hal ini disebabkan bahwa pada suhu kamar reaksi substitusi yang terjadi pada brom dapat menukar atom-atom hidrogen dari senyawa hidrokarbon (heksana, sikloheksana, dan benzena). Reaksi substitusi ini dipercepat dengan adanya sinar matahari. Sedangkan ditempat gelap brom dan senyawa hidrokarbon bereaksi lambat bahkan sama sekali tidak bereaksi.
Reaksinya :
CH3(CH2)4CH3 + Br2 CH3(CH2)2Br(CH2)2CH3 + HBr
Heksana
H Br

+ Br2 + HBr

Sikloheksana
Br
+ Br2 + HBr

Benzena

3.Uji Bayers
Pada uji ini reagen yang digunakan adalah KMnO4 dan Na2CO3. Pada benzena dengan penambahan KMnO4 dan Na2CO3 akan terbentuk larutan ungu. KMnO4 tersebut merupakan oksidator kuat sehingga cepat bereaksi. Tetapi pada dasarnya heksana dan sikloheksana lambat bereaksi dengan adanya oksidator kuat seperti KMnO4. Karena tidak memiliki ikatan rangkap Sedangkan pada benzena lebih mudah mengalami oksidasi pada suhu kamar karena memiliki ikatan rangkap dalam stabilitas struktur resonansinya.
Reaksi yang terjadi :
OH
+ KMnO4 + Na2CO3 + MnO2
OH
Benzena
4.Uji Asam Sulfat
Pada uji ini terjadi reaksi adisi oleh senyawa hidrokarbon (heksana, sikloheksana, dan benzena) menjadi alkil hidrokarbon sulfat yang larut dalam asam sulfat pekat (pelarut non polar). Penambahan asam sulfat pada dasarnnya digunakan sebagai oksidator kuat. Dari percobaan yang dilakukan heksana yang dilarutkan dalam asam sulfat akan terbentuk 2 lapisan yaitu bagian atas bening dan bawah sedikit keruh. Pada sikloheksana yang dilarutkan dalam asam sulfat juga terbentuk 2 lapisan yaitu bagian atas bening dan bawah agak bening. Sedangkan pada benzena yang dilarutkan dalam asam sulfat juga terbentuk 2 lapisan yaitu : bagian atas keruh dan bawah berwarna kuning kehijauan. Adapun reaksi yang terjadi sebagai berikut :
C6H14+ H2SO4 C6H14SO3H + H2O
Heksana asam heksana sulfonat
SO3H
+ H2SO4 + H2O

sikloheksana asam sikloheksana sulfonat
SO3H
+ H2SO4 + H2O

benzena asam benzena sulfonat


PERCOBAAN 4
ALKOHOL

Alkohol adalah senyawa yang mempunyai rumus umum : ROH dimana R adalah gugus alkil tersubstitusi

Alkohol seperti alkil halida dapat dikelompokkan sebagai alkohol metil primer, sekunder, atau tersier maupun alilik tau benzilik.
1. Alkohol primer.
Pada alkohol primer, atom karbon yang membawa gugus –OH hanya terikat pada satu gugus alkil. Contoh:
CH3 – CH2 – OH CH3CH2 – CH2 – OH
2. Alkohol Sekunder
Pada alkohol sekunder, atom karbon yang mengikat gugus –OH berikatan langsung dengan dua gugus alkil, kedua gugus alkil ini bisa sama atau berbeda. Contoh:
CH3 – CH – CH3 CH3 – CH – CH2CH3
OH OH
3. Alkohol Tersier
Pada alkohol sekunder, atom karbon yang mengikat gugus –OH berikatan langsung dengan tiga gugus alkil, kedua gugus alkil ini bisa sama atau berbeda. Contoh:
CH3
CH3 –C – CH3
OH
Alkohol dengan asam karboksiat atau turunan asam karboksilat akan membentuk ester dan karboksilat, reaksi ini disebut reaksi esterifikasi.
R1 – CO-OH + R2OH R1 – CO-OR2 + H2O

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah alkohol absolut, pereaksi lucas, larutan iodin dalam KI, larutan NaOH 6 M, alkohol 70%, larutan kalium kromat, 2-propanol, K2CO3 padat, asam asetat pekat, CuSO4 anhidrat, H2SO4 pekat, t-butanol.

Titik didih alkohol tinggi karena dapat memebnetuk ikatan hidrogen antara molekulnya maka titik didih alkohol lebih tinggi. Titik didih semakin tinggi jika rantai karbon semakin panjang

kelarutan dalam air, alkohol tidak larut dengan air karena bersifat hidrofob, namun besarnya gugus hidroksil dapat membantu kelarutan dalam air.

pengelompokkan alkohol : tersier (cbang 4), sekunder (cbang 3), primer (cabang 2)

rekasi alkohol
A.reaksi subtitusi
(ch3)3coh + hcl >>zncl2>> (ch3)3c-cl + h2o
B.reaksi eleminasi
(ch3)3coh + hcl >>h2so4>> (ch3)3c=cl + h2o
C.reaksi oksidasi (apa bila sebuah molekul memperoleh oksigen atau kehilangan hidrogen), kmno4 + oh-, hno3 pekat dan panas
D.reaksi ekstraksi, adalah reaksi pembentukan ester, terjadi jika lakohol primer dan skunder dipanaskan dengan asam karboksilat dengan kondisi asam


A.Uji air dalam alkohol
Dalam percobaan ini dilakukan pengujian terhadap beberapa macam alkohol terhadap kelarutannya terhadap air. Jenis alkohol yang digunakan adalah etanol absolute, isopropyl alkohol, alkohol 70%, dan t-butanol. Masing-masing sampel alkohol ditambahkan dengan katalis CuSO4 dan K2CO3 . Dalam hal ini setelah ditambahkan katalis ada sebagian sampel alkohol yang tidak larut dalam air contohnya etanol absolute, hal ini menunjukkan bahwa dalam alkohol tersebut mengandung air. Reaksi alkohol dengan melepaskan air ini disebut dengan dehidrasi yang termasuk dalam reaksi eliminasi. Reaksi yang terjadi adalah:
(CH3)3COH (CH3)2C CH2 + H2O
t-butil alkohol
(CH3)2CHOH CH3CH CH2 + H2O
2-propanol
CH3CH2OH CH2 CH2 + H2O
Etanol

B. Uji Lucas
Uji Lucas dilakukan untuk membedakan alkohol-alkohol primer, sekunder, dan tersier, berdasarkan kecepatan reaksi alkohol-alkohol tersebut menjadi klorida yang bersangkutan. Pereaksi Lucas adalah larutan seng klorida dalam asam hidroklorida pekat. Sampel alkohol yang digunakan dalam uji lucas ini adalah etanol absolute, alkohol 70%, t-butanol, isopropyl alkohol. Waktu yang diperlukan hingga tejadi emulsi pada sampel alkohol di atas sangat berbeda. Pada isopropyl alkohol waktu yang diperlukan hingga terjadi emulsi yaitu 53 detik, untuk t-butanol waktu yang diperlukan hingga terjadi emulsi yaitu 52 detik, sedangkan untuk etanol absolute memerlukan waktu 2 menit hingga terentuk emulsi dan untuk alkohol 70% memerlukan waktu hingga 1 menit 58 detik hingga terbentuk emulsi. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
(CH3)3COH + HCl (CH3)3C-Cl + H-OH
t-butil alkohol t-butil klorida
D.Uji Oksidasi dengan Asam Kromat
Percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan sampel alkohol yang telah disediakan dengan asam kromat larutan asam sulfat pekat. Dalam hal ini yang bertindak sebagai oksidator adalah asam kromat, H2Cr¬O4 (diturunkan dari kalium dikromat, K2Cr2O7 dan asam kuat, H2SO4 pekat). Peristiwa terjadinya oksidasi dapat dilihat dengan terjadinya beberapa perubahan terhadap masing-masing sampel alkohol setelah dilakukan penambahan oksidator. Pada etanol absolute terjadi perubahan warna dari yang semula orange menjadi biru dan berbau menyengat, perubahanwarna juga terjadi pada dua sampel alkohol lainnya yaitu alkohol 70% yang mengalami perubahan warna dari orange menjadi biru dan juga memiliki bau yang menyengat. Sedangkan isopropyl mengalami perubahan warna yang semula kuning menjadi biru dan tidak berbau. Untuk t-butanol tidak mengalami perubahan warna dan tidak berbau. Terjadinya perubhan di atas menandakan bahwa alkohol tersebut telah teroksidasi menjadi asam karboksilat. Ini berarti bahwa etanol absolut dan alkohol 70 % merupakan alkohol primer. Pada t-butanol tidak terjadinya perubahan apapun disebabkan karena alkohol tersebut tidak dapat beroksidasi dengan baik.. Oleh karena itu t-butanol termasuk alkohol tersier. Reaksi yang terjadi adalah :

CH3CO2H CH3CHO CH3CH2OH
Etanol asetaldehehid asam asetat

CH3CO2H CH3CH2OH CH3
2-propanol 2-propanon

D. Uji Iodoform
Percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan sampel alkohol dengan iodine dan larutan NaOH 6 M. Etanol absolute dan isopropyl hanya memerlukan 1 tetes NaOH hingga mengalami perubahan yang hampir sama yaitu terjadinya endapan dan perubahan warna dari yang semula berwarna orange menjadi kuning. Untuk alkohol 70% memerlukan 4 tetes NaOH M hingga terjadi perubahan yang ditunjukkan dengan terjadinya endapan pada dasar tabung reaksi dan perubahan warna dari orange menjadi kuning, sedang untuk t-butanol memerlukan 2 tetes NaOH hingga terjadi perubahan. Untuk t-butanol perubahan hanya diperlihatkan dengan terjadinya perubaha warna dari orange menjadi kuning terang. Reaksi yang terjadi adalah :
E. Uji Esterifikasi
Esterifikasi merupakan reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol yang menghasilkan eter. Ke empat sampel alkohol masing-masing yaitu etanol absolute, alkohol 70%, t-butanol dan isopropil direaksikan dengan asam asetat pekat. Biasanya hasil reaksi esterifikasi menghasilkan bau yang harum, namun pada saat percobaan ada dua sample alkohol yang tidak menghasilkan bau yaitu alkohol 70% dan t-butanol. Contoh Reaksi yang terjadi adalah :
O O
║ ║
CH3C-OH + CH3CH2OH CH3C-OCH2CH3 + H2O
Asam asetat etanol absolute etil etanoat


PERCOBAAN 5
ALDEHID DAN KETON
O O
R – C – H atau RCHO R – C – R atau RCOR
Suatu aldehida Suatu keton
Sifat fisis aldehed dan keton
-bersifat polar dengan elektron-elektron tertarik ke oksigen yang lebih elektronegatif.
Bahan : aseton, asetaldehid, sikloheksana, benzeldehid, formaldehida

Uji Fehling
Pereaksi fehling adalah larutan basa berwarna biru dari tembaga sulfat yang susunannya agak berbeda. Larutan formaldehid pada larutan fehling telah membentuk larutan berwarna biru tua. Dan setelah dipanaskan terbentuk endapan yang berwarna merah kecoklatan tetapi ada sedikit berwarna merah, hal ini disebabkan karena formaldehid bereaksi dengan tembaga biru (dalam larutan fehling membentuk endapan Cu2O tembaga (I) oksida.
O
CH3C – H + Cu2+ + 5OH- CH3 – C – O + Cu2O + 3H2O
Merah bata
2. Uji Tollens
Uji Tollens dapat untuk membedakan aldehid dan keton berdasarka sifat kemudahannya mengoksidasi. Pada uji tollens dimana ion kompleks perak amonium yang terbentuk dari reaksi argentum nitart 5% dengan NaOH 10%, akan mudah teroksidasi oleh aldehid yaitu asetaldehid dan formaldehid menjadi cermin.
Reaksinya :
2AgNO3 + 2NaOH 2Ag2O + H2O + 2NaNO3-
Ag2O + 4NH3 + H2O 2Ag(NH3)2
CH3–C–H + 2Ag(NH3)2+ + 3OH- CH3–C–O-NH4+ + Ag
O + 3NH3 + 2Ag+(s) + H2O
Jika tabung yang kita pakai pada saat percobaan benar-benar bersih maka perak mengendap pada permukaan sebagai cermin. Aldehid lebih mudah teroksidasi membentuk asam karboksilat daripada keton. Aldehid akan dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan jumlah atom C sama dengan keton tidak mempunyai H yang menempel pada atom karbonil. Hal ini terbukti dengan membandingkan antara sikloheksanon dengan asetaldehid di mana endapan cermin perak lebih banyak pada asetaldehid.
Reaksi cermin perak dari formaldehid dengan uji tollens :
O
H – C – H + Ag(NH3) + 3OH- H – C – O + 2Ag + NH3 + 2H2O Cermin perak

Keton hanya dapat dioksidasi dalam keadaan yang berlebih keras daripada aldehid. Ikatan antara karbon karbonil dan salah satu karbonnya putus, memberikan hasil oksidasi dengan jumlah atom yang lebih sedikit dibandingkan dengan bahan keton asalnya
3. Uji Iodoform
Pada uji ini asetaldehid ditambahkan dengan I2 dalam KI menghasikan larutan NaOH berwarna kuning tua, dimana NaOH memerlukan hanya 3 tetes NaOH yang mana menunjukkan bahwa asetaldehidlah yang paling positif terhadap iodofrom yang berwarna kuning. Setelah didiamkan terbentuk endapan kuning dari CH3I.
Reaksi yang terjadi yaitu :
O
R – C – CH3 RCOO- + CH3I
C2H5 – C – OH + 3Cl- C2H5COO- + CH3I + 2OH-
O Iodoform
Senyawa aldehid yang digantikan atom H dengan Iodium akan terurai oleh basa menjadi iodoform. Pengertian H karena iodium lebih rektif atau terjadinya reaksi substitusi. Mengenai perubahan yaitu pada warna tergantung reaksi ini terbentuk endapan kristal dan warna bening menjadi agak kemerahan kemudian terakhir setelah ditambahkan dengan I2 menjadi kuning, seperti pada percobaan terbentuk endapan kristal kuning dari CH3I. Reaksi pembentukan iodoform berlangsung beberapa tahap.
R – C – H + 3I2 H – C – Cl3 + 3H2O + 3I-
O O
H – C – Cl3 + OH- H – C – O + CHI3
O CH3
CH3 – C – O + 2I2 CH3 – C – O + 2I2 + 2H2O
CH3
Pembentukan Damar
Pembentukan damar terjadi pada asetaldehid, yaitu, di mana terjadi penggumpalan, ada endapan merah tua dan larutan berwarna orange keruh dengan reaksi :

CH3 – C – H + CH3 – C – H CH3 – CH – CH2 – C - H
CH3
Dibandingkan dengan sampel yang lain yang digunakan dalam percobaan hanya asetaldehid yang memberikan tes positif terhadap pembentukan damar yang berwarna merah. Pembentukan damar terjadi karena adanya aldol yang mempunyai gugus aldehid dan alkohol. Dimana dengan ditandai terdapatnya warna kuning tua samapai berwarna merah pada percobaan ini. Aldehid-aldehid yang mempunyai hidrogen alfa dengan penmabahan asam pekat (kuat) memberi damar aldehid suatu campuran senyawa-senyawa dengan BM yanng tinggi, mungkin sebagai kondensasi dan penghidratan sehingga pada asetaldehid dengan penambahan NaOH menjadi terbentuknya reaksi kondensasi. Aldol yang paling sederhana adalah gabungan 2 molekul asetaldehid. Hal ini dapat dilihat dari terbentuknya amorf merah tua. Kondensasi aldol merupakan suatu reaksi adisi dimana tidak lepas dari molekul kecil. Aldol yang terjadi pelepasan air dan terbentuk aldehid tidak jenuh yaitu kranotaldehid yang ditunjukkan terjadi perubahan jika amorf dipanaskan maka akan terbentuk 2 lapisan yaitu lapisan atas orange keruh dan bawah orange.
5. Uji Adisi Natrium Bisulfit
Na-bisulfit ditambahkan dengan sikloheksanon menghasilkan dua lapisan yaitu sikloheksanon dan Natrium bisulfit, dan cepat bereaksi sedangkan pada asetaldehid dan aseton menghasilkan (tercampur) larutan bening. Dimana asetaldehid juga mengalami reaksi addisi.
Reaksinya :
O .OH
CH3 – C – H + HSO3Na CH3 – C – SO3Na+
H
Na-bisulfit ditambahkan aseton di dalam tabung reaksi yang sudah dicelupkan ke dalam bak es, tetapi berlangsung cepat dibandingkan dengan tanpa dicelupkan dengnan es. Hal ini menunjukkan es menghambat reaksi yang berlangsung ini juga terjadi pada asetaldehid, sikloheksanon.
Reaksinya :
O .OH
CH3 – C – H + HSO3Na CH3 – C – SO3-Na+
CH3
Reaksi tersebut di atas dapat digunakan untuk memisahkan senyawa karbon karbonil dengan campuran lain.
6. Reaksi Pembentukan Asam Karboksilat
Dalam reaksi pembentukan menggunakan KMnO4 yang direaksikan dengan asam sulfat pekat yang berupa larutan panas yang berupa larutan panas dan berwarna coklat atau ungu. Apabila asetaldehid ditambahkan akan dihasilkan bau yang menyengat. Sedangkan pada formaldehid menghasilkan bau menyengat, pada aseton baunya menyengat sekali. Hal ini disebabkan pada oksidasi aseton terjadi pemutusan ikatan karbon semulanya, sedangkan pada aldehid mudah dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan jumlah atom karbon yang sama.
Reaksinya :
H – C – H H – C – OH
O O
Formaldehid Asam format
CH3 – C – OH CH3 – C – OH + 2KmnO2 + K2SO4
O O
Asetaldehid Asam asetat coklat
CH3 – C – OH
O
Aseton
7. Reaksi Pembentukan Fenilhidrazin
Pada reaksi benzaldehid dengan fenilhidrazin menghasilkan gumpalan merah kecoklatan, hal ini juga terjadi pada contoh aldehid yang lainnya diantaranya adalah formaldehid, asetaldehid. Sedangkan pada aseton dan sikloheksanon tidak menghasilkan larutan berwarna merah kecoklatan ,larutannya terpisah. Pembentukan ini terjadi reaksi adisi.

PERCOBAAN 6
ASAM KARBOKSILAT

Dalam larutan alkali asam karboksilat bereaksi mebentuk basa konyugatnya dan membentuk garam. Reaksinya yaitu :
R-COOH + KOH>>>>>RCOO- K+ + H2O
Sifat asam karboksilat, ikatan hidrogen yang kuat antara molekul –molekul asam karboksilat yang kuat. Titik didih dan titik leleh relatif tinggi. Spektra inframerah juga menunjukkan efek pengikatan hidrogen

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah : KMnO4, formaldehid, natrium asetat, asam formiat, Fehling A & B, NaOH, H2SO4(p),etil asetat, asam asetat, asam propionat, alkohol 70%, dan FeCl3.

1.Pembentukan asam karboksilat
Dalam pembentukan asam karboksilat ada tiga perlakuan,yaitu :
A.Oksidasi aldehid
Pada perlakuan ini asetaldehid ditambahkan KMnO4 + 4 tetes H2SO4 pekat. Kedua zat ini direaksikan secara bersama dan dipanaskan. Setelah dipanaskan timbul bau yang khas dari asam karboksilat, berbau menyengat dan warnanya berubah dari jingga menjadi putih. Hal ini karena aldehid yang merupakan senyawa mudah dioksidasi bereaksi dengan asam sulfat pekat dan KmnO4
b.Hidrolisis ester
Senyawa etil asetat dihirolisis dengan menambahkam asam sulfat pekat dan setelah diamati baunya ternyata menimbullkan bau yang sangat khas yaitu bau harum dan menghasilkan warna merah bata terang
c.Reaksi garam karboksilat dengan asam sulfat
Senyawa garam asetat ditambahkan dengan asam sulfat encer, menimbulkan bau yang khas yaitu bau balon.
2.Pembentukan garam karboksilat
Suatu senyawa garam karboksilat dapat bereaksi dengan larutan logam-logam alkali mebentuk garam yang dapat larut dalam air. Pada perlakuan ini menggunakan senyawa asam asetat, asam format, etil asetat dan asam propionat direaksikan terhadap larutan NaOH. Larutan hasil reaksi ternyata tidak berbau dan semua larutan berwarna bening
3. Esterifikasi
Esterifikasi adalah suatu reaksi pembentukan senyawa ester. Pada perlakuan ini menggunakan senyawa asam asetat, asam format dan asam propionat direaksikan terhadap larutan etanol 70% dan asam sulfat pekat dan hasil reaksinya larutan bening dan setelah dipanaskan terdapat bau seperti bau balon. Uji yanf kedua dengan penambahan etanol absolut buka etanol 70 % dan didapatkan hasil reaksinya larutan menjadi bening dan setelah dipanaskan terdapat bau yang menyengat. Biasanya reaksi pembentukan estera adalah dengan menambahkan salah satu senyawa alkohol dengan asam asetat maka akan terbenuk asam karboksilat. Untuk zat karboksilat yang dihasilkan tergantung dari jumlah atom karbon dari alkohol.
4.Oksidasi karboksilat
Seperti halnya aldehida dan keton, maka karboksilat dapat juga dioksidasi, sehingga mengakibatkan putusnya ikatan rangkap pada gugus karboksilnya. Pada reaksi oksidasi dengan KMnO4,warna larutan KMnO4 hilang berlahan-lahan,hal ini terjadi pada senyawa asam format dan asam propionat sedangkan untuk asam asetat hanya sidikit warna KMnO4 yang hilang. Pada reaksi oksidasi dengan fehling A dan B,warna larutan fehling A dan B hilang berlahan-lahan,hal ini terjadi pada senyawa asam asetat dan asam propionat. Sedangkan pada senyawa asam format tidak dan terbentuk gelembung.
5.Reaksi garam karboksilat
Garam karboksilat ternyata sangat reaktif, ini disebabkan oleh gugus karbonilnya yang dapat bereaksi dengan zat lain. Pada oksidasi garam karboksilat menggunakan larutan natrium asetat yang direaksikan dengan besi(III) klorida. Dari hasil percobaan diatas terbentuk besi asetat dengan hasil sampingan garam NaCl. Pada Na-asetat, yang semula berwarna jingga setelah dipanaskan larutan tetap berwarna jingga.

1. Asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil yang mengikat gugus alkil (R-COOH) atau gugus aril (Ar-COOH).
2. Asam karboksilat dapat dibuat dengan cara oksidasi aldehid, reaksi hidrolisis ester, dan reaksi garam karboksilat dengan asam kuat.
3. Asam karboksilat dengan alkohol akan membentuk ester, dimana ester yang dihasilkan berbau khas dan reaksi ini disebut dengan esterifikasi.
4. Seperti halnya juga aldehid dan keton, asam karboksilat dapat dioksidasi, karena senyawanya tak jenuh disebabkan memiliki ikatan rangkap.